Mulai Course dari Pekerjaan yang Harus Bisa Dilakukan Peserta

Sebelum menyusun silabus course, cari tahu siapa yang ingin dibantu, pekerjaan apa yang ingin mereka selesaikan, dan hasil apa yang bisa mereka bawa pulang.

· 7 menit baca

Dalam software, kita bisa merasa produktif hanya dengan merapikan daftar fitur. Di course, bentuknya mirip: menyusun daftar modul, memilih judul sesi, lalu menyiapkan slide. Semua terlihat seperti kemajuan. Tapi ada pertanyaan yang belum tentu terjawab: setelah belajar, peserta bisa melakukan apa?

Saat merapikan bahan belajar dari Maven Help Center, pola yang terus muncul justru dimulai sebelum silabus dibuat. Cari tahu masalah yang ingin dibereskan peserta, tentukan perubahan yang bisa diamati, lalu pilih cara belajar yang membantu mereka sampai ke sana.

Urutannya terdengar sederhana. Praktiknya mudah terbalik karena daftar materi lebih gampang dibuat daripada mencari bukti bahwa orang sungguh membutuhkan course itu.

Pahami kebutuhan sebelum menyusun silabus

Maven menyebut course-market fit sebagai pertemuan antara instruktur yang tepat, topik yang tepat, audiens yang tepat, dan harga yang tepat. Kerangkanya melihat dua arah. Dari luar, kita memeriksa masalah yang dihadapi calon peserta dan apakah masalah itu cukup penting untuk mereka selesaikan. Dari dalam, kita memeriksa pengalaman serta kredibilitas instruktur untuk mengajarkan topik tersebut. Keduanya harus bertemu di satu course yang jelas. (Course-market fit)

Mulailah dari situasi sehari-hari calon peserta. Siapa yang menghadapi masalah ini? Kapan biasanya masalah itu muncul? Apa yang sudah mereka coba? Pekerjaan apa yang ingin mereka lakukan lebih baik setelah belajar? Pertanyaan seperti ini membantu membedakan topik yang menarik dari topik yang punya pemicu nyata.

Misalnya, “belajar pemasaran digital” masih terlalu luas. Pemilik toko online yang sudah beriklan mungkin tidak butuh pengantar pemasaran. Ia mungkin perlu cara membaca hasil kampanye dan memilih iklan mana yang layak diberi anggaran lagi. Bagi orang itu, course yang berguna berangkat dari keputusan yang harus ia buat pada hari Senin, bukan daftar kanal pemasaran yang perlu dihafal.

Lalu periksa sisi instruktur. Pengalaman apa yang membuatnya layak mengajar pekerjaan itu? Apakah ia pernah menjalankannya, membantu orang lain melakukannya, atau punya contoh yang bisa dibedah bersama? Topik tidak cukup hanya terdengar laku. Instruktur juga perlu punya bahan nyata dan sudut pandang yang bisa dibagikan.

Sebelum membuat kurikulum lengkap, ajak calon peserta berbicara atau kirim survei singkat. Maven menyarankan survei minat course sebelum halaman penjualan dan syllabus selesai. (How to survey your audience) Saya akan menambahkan pertanyaan yang meminta contoh kejadian terakhir: kapan masalah itu muncul, apa yang mereka lakukan, dan apa yang masih menghambat mereka.

Jawaban semacam itu memberi konteks yang tidak muncul dari sekadar bertanya, “Apakah Anda tertarik ikut course ini?” Banyak orang senang mengatakan sebuah ide terdengar menarik. Itu belum sama dengan menyediakan waktu, mengerjakan tugas, atau membayar untuk menyelesaikannya. Like dan komentar bisa membantu menyebarkan kabar, tetapi jangan dipakai sendirian untuk memutuskan bahwa pasar sudah terbukti.

Tulis hasil belajar yang bisa diperiksa

“Peserta memahami arus kas” terdengar seperti hasil, tetapi sulit untuk diperiksa. Apa yang berubah setelah mereka memahami konsep itu?

Coba ubah menjadi: peserta menyusun proyeksi arus kas 13 minggu dari transaksi usahanya, lalu menandai minggu yang berisiko kekurangan dana. Sekarang instruktur bisa merancang contoh, latihan, dan umpan balik di sekitar pekerjaan yang sama. Peserta pun tahu apa yang perlu mereka siapkan sebelum kelas dan apa yang dibawa pulang setelahnya.

Dalam pengembangan software, frasa “fitur ini harus mudah dipakai” belum cukup untuk memberi arah pada tim. Kita perlu tahu siapa penggunanya dan tindakan apa yang akan mereka selesaikan. Hasil belajar juga bisa diperlakukan seperti acceptance criteria: harus cukup jelas sehingga peserta dan instruktur dapat menilai apakah perubahan itu terjadi.

Tuliskan hasil dengan kata kerja yang bisa diamati, seperti menyusun, menilai, menguji, atau meluncurkan. Misalnya, setelah course product discovery, peserta mungkin membawa ringkasan wawancara calon pelanggan, hipotesis masalah, dan eksperimen kecil untuk mengujinya. Itu lebih membantu daripada janji “menguasai product discovery”.

Maven juga mendorong instruktur mengajarkan “Super Specific How”: tunjukkan langkah, contoh, dan keputusan yang benar-benar digunakan. Artikel itu mengajukan rasio 80 persen “how” dan 20 persen “what/why” sebagai sebuah hipotesis, bukan angka baku yang harus diikuti semua course. Intinya, penjelasan tentang alasan perlu disertai cara untuk bertindak. (Super Specific How)

Jika course membahas cara memberi feedback, misalnya, jangan berhenti di slide “feedback harus jelas dan empatik”. Bedah satu contoh pesan. Tunjukkan bagian yang terlalu samar, revisi kalimatnya, jelaskan alasannya, lalu minta peserta mencoba pada situasi mereka sendiri. Contoh membuat pengetahuan lebih bisa dipakai karena peserta dapat melihat proses, bukan hanya definisi akhirnya.

Beri waktu langsung pekerjaan yang layak dilakukan bersama

Materi dasar yang bisa dibaca atau ditonton sendiri tidak selalu membutuhkan satu jam waktu langsung. Maven punya format Classic, Weekend Seminar, dan Hybrid. Perbedaannya antara lain jumlah sesi, panjang tiap pertemuan, porsi materi asinkron, dan cara proyek diselesaikan. Ketiga format itu tetap perlu dirancang mengitari hasil belajar yang bisa dicapai peserta. (Course formats)

Video penjelasan, bahan bacaan, template, dan framework bisa diberikan sebelum kelas. Saat bertemu, instruktur dapat memperagakan satu langkah, mengajak peserta mencoba bersama, lalu memberi ruang agar mereka mengerjakannya sendiri. Maven menyebut pola ini “I do, We do, You do”, dengan sesi langsung yang berpusat pada satu atau dua tujuan belajar utama. (Course lessons (asynchronous content), Guide to running great live course sessions)

Contohnya, peserta datang dengan ringkasan masalah pelanggan yang sudah mereka buat. Instruktur membedah satu contoh dan menunjukkan bagaimana membedakan keluhan dari kebutuhan. Setelah itu seluruh kelas menilai contoh kedua bersama-sama. Terakhir, setiap peserta memperbaiki ringkasannya sendiri dan menerima tanggapan. Materi pengantar bisa dipelajari sebelumnya; waktu kelas dipakai untuk hal yang terbantu oleh kehadiran orang lain.

Maven juga menyarankan perubahan aktivitas setiap tiga sampai lima menit lewat metode State Change, misalnya beralih dari paparan ke pertanyaan, diskusi, chat, atau latihan. Saya membacanya sebagai pengingat untuk memecah monolog, bukan stopwatch yang harus ditaati di semua jenis kelas. Kalau peserta sedang mengerjakan latihan dengan serius, perubahan yang paling berguna mungkin justru memberi mereka waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. (State Change Method)

Jadikan proyek sebagai tempat mencoba

Proyek yang baik dekat dengan konteks kerja peserta. Course tentang wawancara pengguna bisa berakhir dengan satu wawancara yang dilakukan dan dianalisis. Course tentang penjualan bisa meminta peserta memperbaiki satu email outreach, mengirimkannya, lalu membandingkan responsnya. Semakin dekat tugas course dengan pekerjaan yang harus dilakukan setelah kelas, semakin sedikit lompatan dari “saya paham” ke “saya tahu harus mulai dari mana”.

Di sinilah proyek mendapat manfaat dari bimbingan instruktur. Peserta mengumpulkan artefak, instruktur memberi komentar, lalu peserta punya kesempatan memperbaikinya. Maven menyebut personalized feedback dan berbagai jenis proyek sebagai bagian dari desain course yang baik. (Designing a Top-Rated Course)

Wes Kao dan Shane Parrish membahas siklus belajar yang berangkat dari pengalaman, dilanjutkan refleksi, lalu gagasan yang bisa dipakai untuk tindakan berikutnya. Video ini salah satu bahan yang saya gunakan saat menyusun catatan course design:

Tonton langsung di YouTube.

Urutan itu juga mengubah cara kita memikirkan jadwal. Kalau praktik baru diletakkan jauh setelah penjelasan, peserta harus mengingat banyak hal sambil menghadapi pekerjaan aslinya. Kalau mereka mencoba lebih cepat, instruktur mendapat kesempatan melihat bagian yang belum jelas ketika kelas masih berjalan.

Anggap cohort pertama sebagai kesempatan belajar

Menyusun course tidak harus berarti menyiapkan produk yang sempurna sebelum bertemu calon peserta. Course-market fit, hasil belajar, sesi, dan proyek adalah hipotesis desain. Cohort pertama memberi ruang untuk mengujinya dengan orang yang benar-benar mengerjakan tugas tersebut.

Mulailah dengan ruang lingkup yang bisa ditangani instruktur dengan baik. Sepanjang cohort, catat pertanyaan yang berulang, instruksi yang disalahpahami, dan pekerjaan yang ternyata membutuhkan lebih banyak contoh. Setelah sesi, minta refleksi singkat: bagian apa yang sudah dicoba, apa yang masih sulit, dan apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Di akhir program, gunakan tanggapan peserta untuk memperbaiki bagian yang memang menghambat hasil.

Perubahan kecil seperti memperjelas satu contoh atau memindahkan satu penjelasan ke materi prasyarat bisa lebih berharga daripada menambah lima modul. Course tidak perlu terasa besar untuk membantu. Ia perlu membuat peserta bergerak dari satu keadaan ke keadaan berikutnya.

Sebelum membuka pendaftaran, saya akan mengecek lima hal ini:

  1. Apakah saya bisa menyebut orang yang punya masalah ini dengan cukup spesifik?
  2. Apakah masalah itu pernah muncul dalam pekerjaan mereka, bukan hanya terasa menarik di atas kertas?
  3. Dapatkah hasil course dilihat dari sesuatu yang mereka buat atau lakukan?
  4. Bagian mana yang bisa dipelajari sendiri, dan kapan kehadiran instruktur membantu?
  5. Pekerjaan apa yang akan peserta coba selama cohort, dan umpan balik seperti apa yang mereka butuhkan?

Jika jawaban untuk pertanyaan ketiga masih abstrak, silabus mungkin belum perlu ditulis. Mulai dari pekerjaan yang ingin peserta selesaikan. Materi, sesi, dan proyek akan lebih mudah menemukan bentuknya setelah itu.

Bacaan dan sumber

Tulisan terkait

Daftar isi
  1. Pahami kebutuhan sebelum menyusun silabus
  2. Tulis hasil belajar yang bisa diperiksa
  3. Beri waktu langsung pekerjaan yang layak dilakukan bersama
  4. Jadikan proyek sebagai tempat mencoba
  5. Anggap cohort pertama sebagai kesempatan belajar
  6. Bacaan dan sumber