Skip to content

Strategi adalah Pilihan Eksplisit, Bukan Planning

Catatan setelah ikut kelas strategic thinking dan baca ulang Roger Martin. Banyak yang bilang punya strategi, padahal yang dipegang baru roadmap. Distinksi ini lebih penting dari yang aku duga.

Aku mau jelasin satu distinksi yang menurutku penting buat siapapun yang lagi pegang produk, lagi pegang tim, atau lagi mikir karir sendiri. Strategi dan planning itu beda, dan kerancuan antara dua kata ini sering bikin orang merasa sudah punya strategi padahal sebenarnya cuma punya daftar pekerjaan.

Aku belajar ini perlahan setelah bertahun-tahun ngeliat pertemuan-pertemuan yang dipanggil “strategy meeting”, lalu isi pembicaraannya soal kapan launch fitur, berapa orang perlu di-hire, dan target metric apa yang mau dikejar di kuartal depan. Itu semua perencanaan. Dan perencanaan itu bukan strategi.

Beda yang fundamental

Roger Martin, mantan dean Rotman School of Management, ngegambarin distinksi ini di video HBR yang pendek dan tajam. Aku akan kutip langsung biar gak salah parafrase:

“Strategy is an integrated set of choices that compels desired customer action.”

Kata kuncinya ada dua. Pertama, integrated. Pilihan-pilihan dalam strategi saling terhubung satu sama lain, bukan daftar item yang berdiri sendiri. Kedua, customer action. Strategi beroperasi di ranah yang kita gak kontrol, yaitu apa yang nanti dilakukan oleh customer di luar sana.

Planning, di sisi lain, hidup di ranah yang kamu kontrol. Mau hire berapa orang. Mau sewa kantor seberapa luas. Mau launch produk apa di Q3. Itu semua keputusanmu, dengan cost dan timeline yang bisa dihitung sebelum dilakukan.

Aku akan ngutip Martin sekali lagi di sini, karena framingnya tajam:

“If you plan, that’s a way to guarantee losing. If you do strategy, it gives you the best possible chance of winning.”

Bunyinya provokatif, tapi maksudnya gak ekstrem. Martin gak bilang planning itu gak penting. Yang dia bilang, planning saja gak akan menang, karena planning gak menjawab pertanyaan paling fundamental, yaitu apa yang seharusnya kita kerjakan?

Kenapa orang nyaman di planning

Pertanyaan yang sering muncul di kepala aku, kenapa orang dewasa dengan posisi senior dan modal cukup masih sering bingung antara dua kata ini. Martin punya penjelasan yang aku rasa jujur. Planning itu nyaman karena beroperasi di ranah yang kita kontrol. Hire, sewa, launch, semua itu keputusan kita sendiri. Kita yang memutuskan, kita yang eksekusi, dan hasilnya bisa diukur dengan output yang jelas.

Strategi gak punya kemewahan ini. Strategi memaksa kita berkomitmen pada outcome yang gak bisa dijamin di awal. Kita bilang kami yakin ini akan terjadi, sambil tahu kami gak punya bukti definitif sampai kami coba. Itu rasanya tidak aman, terutama buat manajer yang biasa diukur dari ketepatan delivery.

Tapi Martin bilang, justru di situ letak leadership yang sebenarnya. Itu bukan tanda manajer yang buruk, sebaliknya itu tanda pemimpin yang ngasih organisasinya kesempatan untuk mencapai sesuatu yang besar.

Tes sederhana

Kalau kamu ragu apakah yang kamu pegang sekarang itu strategi atau planning, coba pertanyaan ini.

Kalau ditanya “apa strategi kalian?”, dan jawabannya adalah daftar fitur yang akan di-deliver, atau jumlah orang yang akan di-hire, atau target metric yang mau dicapai, itu kemungkinan besar planning. Planning yang bagus juga penting, tapi jangan disamarkan sebagai strategi.

Strategi yang sebenarnya akan terdengar lebih seperti pernyataan tentang siapa customer kalian, kenapa mereka akan memilih kalian, dan apa yang sengaja gak kalian kejar untuk menjaga fokus itu. Itu tiga elemen yang biasanya gak hadir di daftar pekerjaan biasa.

Pilihan negatif itu syarat

Bagian yang paling sering hilang dalam pembicaraan strategi adalah pilihan negatif. Apa yang sengaja gak kita kejar.

Strategi tanpa trade-off bukanlah strategi yang serius. Kalau semua segmen customer mau dijangkau, kalau semua fitur mau di-build, kalau semua peluang mau diambil, kita gak sedang punya strategi. Kita cuma sedang punya wish list dengan label baru.

Aku punya kebiasaan sederhana untuk ngecek ini di proyek aku sendiri. Setiap kali aku tulis appetite untuk sebuah fitur, aku tulis juga apa yang sengaja aku reject. Misal di proyek aku yang terakhir aku tulis di README, “blue-green deployment ditolak karena terlalu kompleks untuk appetite ini.” Itu satu baris kecil, tapi efeknya besar di tim, karena pilihan negatif yang eksplisit ngebantu semua orang ngerti mana yang kita lakukan dan mana yang sengaja kita lewati.

Penutup pendek

Kalau ada satu hal yang aku ingin ditinggal di kepala pembaca, itu adalah pertanyaan ini.

Pas kamu bilang punya strategi, coba tanya diri sendiri, apa yang secara eksplisit kamu putuskan untuk tidak dikerjakan. Kalau jawabannya kosong, yang kamu pegang kemungkinan besar baru planning.

Diberi tag