Skip to content

Solution-First Valid Kalau Teknologi Berubah Lebih Cepat dari Problem Space

Updated: at 11.00

Core Thesis

”Start from the problem, not the solution” adalah advice yang valid di era teknologi statis. Tapi di era di mana teknologi berubah lebih cepat dari problem space, pendekatan solution-first jadi equally — kadang lebih — valid. Kamu nggak selalu tahu problem worth solving sampai kamu lihat solusinya.


Kenapa Solution-First Dianggap “Haram”

Design process klasik (design thinking, double diamond, dll.) mengajarkan flow linear:

  1. Discover problems → 2. Define problem statement → 3. Develop solutions → 4. Deliver

Mulai dari solusi dianggap:

Dan di era sebelumnya, ini mostly benar. Teknologi relatif statis — mobile, web, database — jadi competitive advantage ada di siapa yang paling paham user problems.


Apa yang Berubah: Tech Moves Faster Than Problems

Di era AI, dinamikanya kebalik:

Era SebelumnyaEra AI
Tech statis, problem space luasTech berubah cepat, problem space sama
Cari masalah → bikin solusi dengan tech yang adaLihat capability baru → mapping ke masalah existing
Competitive advantage: deep user understandingCompetitive advantage: speed to recognize + apply new capability
Problem-first naturalSolution-first sering lebih efektif

Contoh nyata dari Anthropic (Jenny Wen):


Bukan Berarti Problem Nggak Penting

Solution-first bukan berarti ignore problems. Ini soal urutan:

Problem-first flow: Problem → Research → Solution → Validate

Solution-first flow: Capability/Prototype → “Oh shit, ini bisa solve X!” → Validate → Ship

Di solution-first, problem tetap di-address — cuma ditemukan setelah lihat solusi, bukan sebelumnya. Dan kadang problem yang ditemukan lewat cara ini justru yang nggak pernah muncul dari user research tradisional, karena user nggak bisa articulate need yang mereka belum pernah lihat.


Kapan Pakai Mana

SituasiApproach
Tech stabil, problem space well-understoodProblem-first
New technology/capability munculSolution-first
Iterasi produk existingProblem-first (feedback-driven)
Explorasi 0→1 di domain baruSolution-first (prototype-driven)
User bisa articulate painProblem-first
User belum tahu apa yang possibleSolution-first

Implikasi untuk PM

  1. Jangan alergi sama “solutioning duluan.” Kalau ada capability baru (AI, API, framework), explore dulu apa yang bisa dibikin. Baru tanya: ini solve masalah siapa?
  2. Prototype > Problem statement di fase explorasi. Working prototype bikin orang bilang “wow” — problem statement nggak pernah bikin orang bilang wow.
  3. Setiap model upgrade = opportunity untuk solution-first thinking. Lihat apa yang baru bisa dilakukan, mapping ke customer problems.
  4. Ini bukan excuse untuk skip validation. Solution-first tetap butuh “does anyone actually need this?” — cuma timing-nya beda.

Key Takeaway

Di era di mana teknologi shift faster than user needs evolve, kemampuan untuk recognize apa yang baru possible dan connect ke real problems jadi lebih valuable dari kemampuan untuk articulate problems dan cari solusi dari toolkit yang sama.