Diperbarui 16 Mei 2026 3 menit baca Strategic Thinking
Produktif Bukan Berarti Efektif
Catatan refleksi setelah ngerasain hari-hari yang terasa sibuk tapi gak ada yang matters. Distinksi produktif dan efektif menurutku adalah salah satu hal paling underrated di lingkungan kerja modern.
Aku punya teman yang habis pulang kantor sering ngeluh, “Hari ini aku produktif banget, tapi kok rasanya gak ada yang beres.”
Kalimat itu nyangkut di kepala aku karena aku pernah merasakan hal yang sama. Sehari habis dipakai meeting, ngerjain ticket, balas email, dan rasanya kerja keras. Tapi pas malam sebelum tidur dipikir lagi, apa yang aku kerjakan hari ini gak akan terasa bedanya tiga bulan ke depan.
Itulah jarak antara produktif dan efektif. Menurutku banyak orang nyangkut di sini tanpa sadar.
Distinksi yang sering luput
Produktif itu soal volume dalam waktu yang terbatas. Banyak tiket ditutup, banyak fitur dikirim, banyak meeting diselesaikan. Mode ini tactical, fokus pada kecepatan dan jumlah delivery.
Efektif beroperasi di level yang berbeda. Pertanyaan yang muncul di mode efektif bukan seberapa banyak yang sudah aku kerjakan, melainkan apakah yang aku kerjakan itu benar-benar matters dalam jangka yang lebih panjang.
Dua-duanya bisa terjadi bersamaan, tapi gak harus. Seseorang bisa sangat produktif tanpa pernah jadi efektif. Sibuk terus, delivery cepat, dan tetap berjalan di tempat secara dampak.
Cara ngujinya
Ada pertanyaan kecil yang aku pakai sendiri untuk ngecek mode aku lagi di mana. Dalam dua minggu terakhir, berapa banyak waktuku yang dipakai untuk mengerjakan sesuatu yang masih akan matters enam bulan ke depan?
Kalau jawabannya kecil padahal aku merasa sibuk, biasanya aku sedang dalam mode produktif yang gak efektif. Itu sinyal bahwa pilihan tentang apa yang dikerjakan belum dapat perhatian yang cukup.
Pertanyaan ini sederhana, tapi efeknya keras. Karena bisa exposing fakta yang gak menyenangkan, yaitu bahwa banyak dari kesibukan kita sebenarnya cuma menghibur diri sendiri bahwa kita kerja.
Recognize, prioritize, mobilize
Michael Watkins di bukunya The Six Disciplines of Strategic Thinking punya kerangka tiga kata yang sederhana, yaitu recognize, prioritize, mobilize. Sebelum kita memilih untuk bertindak, kita harus dulu mengenali apa yang sedang terjadi, lalu memutuskan apa yang paling layak dikerjakan.
Yang aku notice dari pengamatan di tim aku, orang yang sangat produktif sebenarnya sudah berhasil di tahap mobilize. Mereka eksekusi banyak hal, dan eksekusinya bersih. Yang sering hilang adalah dua tahap di awal. Recognize, yang berarti membaca tanda-tanda yang benar dari pasar, dari user, dari tim. Dan prioritize, yang berarti memilih yang benar-benar matters dari sekian banyak yang bisa dikerjakan.
Watkins juga membuat satu observasi yang aku rasa jujur. Banyak leader naik ke posisi senior karena kemampuan operasional yang kuat. Tapi kemampuan operasional itu sendiri bukan jaminan bahwa mereka adalah strategic thinkers yang baik. Itu adalah versi institusional dari distinksi yang sedang aku bahas, yaitu sangat produktif belum tentu sangat efektif.
Tekanan untuk terlihat produktif
Bagian yang menurutku gak fair adalah lingkungan kerja modern memang menghadiahi produktivitas yang terlihat. Stand-up harian menanyakan apa yang sudah dikerjakan kemarin. Performance review menghitung jumlah deliverable. Slack channel selalu terlihat aktif sebagai bukti kerja.
Tekanan ini bikin orang default ke mode produktif, karena mode itu yang paling gampang divisualisasikan dan dinilai. Sementara mode efektif sering kelihatan seperti diam, atau seperti berpikir lama, atau seperti menolak permintaan. Itu semua gak terlihat kontributif di permukaan.
Aku gak punya solusi institusional yang gampang buat ini. Saran yang aku bisa kasih cuma satu, yaitu jaga kebiasaan pribadi untuk reflect mingguan. Tanya diri sendiri pertanyaan tadi, dan biarkan jawabannya jujur walaupun bikin tidak nyaman.
Implikasi praktis untuk PM
Karena banyak yang baca tulisanku ini adalah PM atau builder, aku coba sebut implikasi yang paling konkret di kerjaan ini.
Pertanyaan default kita biasanya, apa yang bisa kita ship di sprint ini? Itu pertanyaan mode produktif. Versi yang lebih efektif kira-kira, capabilities apa yang sedang kita bangun yang akan menciptakan advantage jangka panjang? Beda nuansanya halus tapi konsekuensinya besar.
Di moment planning, kita sering nanya apa yang paling urgent? Itu pertanyaan reaktif yang biasanya cuma menggeser pemadaman kebakaran dari hari ini ke besok. Lebih sehat kalau gantinya kita nanya apa yang memberi compounding impact over time? Kerjaan yang dampaknya menumpuk seiring waktu jauh lebih berharga dari pemadaman berulang.
Lalu di response ke permintaan datang, default kita biasanya bagaimana cara memasukkan request ini ke plan? Asumsinya semua request layak dijawab. Versi yang lebih sehat justru meragukan asumsi tersebut, dan nanya apakah request ini aligned dengan arah yang sedang kita tuju, atau justru menarik kita keluar dari fokus?
Penutup
Aku gak bermaksud bilang produktif itu buruk. Mode produktif punya tempat, terutama di momen yang butuh delivery cepat, atau di hal-hal yang memang sudah jelas perlu diselesaikan. Yang aku tekankan, jangan biarkan mode produktif jadi default sampai kita lupa nanya apakah mode efektif lagi aktif gak.
Strategic thinking adalah jembatan antara dua mode itu, dan jembatan itu perlu dilatih sama seperti otot lainnya.