Skip to content

Intuisi Itu Shortcut dari Kedalaman, Bukan Kemalasan

Banyak yang ngeliat intuisi sebagai lawan dari riset. Setelah cukup lama di product, aku makin yakin intuisi yang baik justru hasil riset bertahun-tahun yang sudah dikompresi jadi reflex.

Aku mau cerita satu bias yang sering aku ngeliat di tim product yang aku ajak kerja. Bias terhadap kata “intuisi”. Banyak yang ngerasa kalau seseorang bikin keputusan pakai intuisi, dia gak data-driven, gak user-centric, atau cuma asal nebak. Kalau ditanya kenapa, jawabannya lazim, “lhah kan harus ada bukti dulu sebelum decide.”

Aku selama bertahun-tahun ada di posisi yang sama. Tiap kali ada PM atau designer yang ngambil keputusan “feel right” tanpa research dulu, aku otomatis skeptis. Tapi semakin lama aku liat orang yang konsisten produce kerjaan bagus, semakin aku sadar mereka justru orang yang heavily rely on intuisi mereka, bukan sebaliknya.

Pergeseran cara mikir aku dipantik banyak oleh tulisan Jenny Wen, Design Lead di Anthropic yang sebelumnya lama di Figma. Setelah aku pelajari maksud dia, intuisi yang sebenarnya gak ngelawan thinking. Intuisi yang baik justru adalah shortcut ke thinking yang sudah pernah dilakukan sebelumnya, dikompresi jadi satu reflex yang cepat.

Kenapa intuisi sering disalahpahami

Di dunia product dan design, intuisi sering disamakan dengan keputusan yang dibikin tanpa bukti, atau dengan ego seseorang yang pengen menang argumen. Itu pemahaman yang aku rasa salah arah, walaupun gak sepenuhnya gak adil, karena memang ada banyak orang yang ngakuin keputusan asal-asalan sebagai “intuisi” lalu kabur dari pertanggungjawaban.

Ada perbedaan substansial antara orang yang nebak dan orang yang punya intuisi terlatih. Orang yang nebak gak punya konteks, gak punya pattern, dan gak punya internal model dari domain yang dia ada di dalamnya. Orang yang punya intuisi terlatih sudah lihat ratusan atau ribuan kejadian di domain yang sama, lalu otaknya mendapatkan kemampuan untuk recognize pola tanpa harus mikir dari awal lagi.

Sayangnya dari luar, kedua orang ini kelihatan sama. Sama-sama gak bisa menjelaskan keputusannya dengan rapi pakai data. Itu yang bikin intuisi dapat reputasi buruk, padahal sebenarnya yang kita keluhkan adalah versi murahnya, bukan versi sesungguhnya.

Apa intuisi sebenarnya

Cara terbaik buat aku ngerti intuisi adalah dengan metafora yang sering dipake di literatur expertise. Pemain catur grandmaster gak menghitung semua kemungkinan move sebelum bergerak. Dia melihat papan dan langsung tau move terbaik di antara beberapa kandidat, lalu refine sedikit sebelum eksekusi. Itu hasil dari ribuan posisi serupa yang sudah dia mainkan di game-game sebelumnya.

Dokter UGD yang berpengalaman bisa nentuin pasien yang masuk itu critical atau gak hanya dari cara pasien jalan masuk pintu. Itu hasil dari ribuan pasien yang sudah dia lihat, dan otaknya sudah mencatat pola yang invisible buat orang luar.

Senior PM yang langsung tau fitur ini gak akan work, walaupun timnya excited, biasanya sudah lihat puluhan fitur dengan pola serupa gagal di pasar. Otaknya sudah mengkompres semua pengalaman itu jadi reflex.

Intuisi seperti ini namanya compressed experience. Pattern recognition yang sudah terinternalisasi sampai ke titik di mana keputusan terasa otomatis. Justru hasil dari riset bertahun-tahun yang menumpuk dan ngebentuk model di otak.

Cara membangun intuisi secara sadar

Yang aku pelajari dari Jenny Wen dan beberapa praktisi lain, intuisi yang bagus gak datang otomatis bahkan kalau kamu kerja lama di sebuah domain. Itu butuh deliberate input.

Baca feedback produk secara rutin, gak cuma yang masuk ke timmu, tapi yang publik di Twitter, di Reddit, di forum internal. Itu membangun model mental tentang apa yang user actually rasakan, dan biasanya beda dari apa yang kamu kira mereka rasakan.

Di luar itu, hadir di user research session, bahkan kalau itu bukan area kamu. Cross-segment exposure ngebantu kamu menangkap pola yang gak akan muncul kalau kamu cuma fokus di segmen kamu sendiri.

Yang juga ngebantu, tonton ulang session lama, baca report-report dari proyek sebelumnya, walaupun kelihatan gak relevan. Itu yang ngebangun pattern recognition dari historical data, dan dia compounding seiring waktu.

Dashboard usage gak hanya buat laporan ke management. Liat dia rutin supaya kamu punya sense apa yang normal di produk kamu, dan apa yang anomali. Tanpa baseline, kamu gak akan bisa ngerasain anomali kalau muncul.

Terakhir, tarik prinsip dari psikologi dan ilmu lain. Cognitive biases, mental models, ilmu komunikasi, semuanya kepake. Lattice yang kuat di dalam kepala ngebantu kamu menerjemahkan situasi baru ke pola yang sudah kamu kenal.

Macro dan micro

Yang sering luput dari diskusi soal intuisi, ia paling powerful bukan cuma di keputusan macro. Macro decision macam apakah fitur ini worth dibangun, atau market timing tepat sekarang, memang butuh intuisi. Tapi micro decision ratusan per hari juga butuh intuisi yang terlatih.

Gimana group beberapa tombol di interface. Copy apa yang paling tepat di empty state. Spacing dan padding yang terasa pas. Kalau semua keputusan micro ini di-research satu per satu, kerjaan gak akan selesai. Yang ngebedain produk yang oke dari produk yang wow seringkali bukan satu keputusan besar, tapi ribuan keputusan kecil yang dibikin pakai intuisi yang terlatih.

Kapan intuisi tidak cukup

Aku gak mau bilang intuisi solusi universal. Ada situasi di mana intuisi punya blind spot.

Domain yang baru dan kamu belum punya pengalaman di sana, intuisi kamu kemungkinan halusinasi. Di sini, kamu wajib research.

Keputusan high-stakes dan irreversible, misal cut funding rounds, sign kontrak besar, pivot bisnis. Intuisi boleh hadir sebagai input, tapi keputusan akhir butuh data, deliberation, dan kalau perlu second opinion dari orang luar.

Hati-hati juga sama confirmation bias. Intuisi bisa jadi echo chamber dari asumsi kamu sendiri. Kalau kamu cuma cari validasi yang ngedukung intuisi, kamu gak sedang pakai intuisi, kamu sedang pakai bias.

Untuk tim yang belum aligned juga sama. Intuisi kamu personal, dan gak otomatis bisa di-transfer ke anggota tim baru yang belum punya pengalaman serupa. Di sini kamu butuh konversi intuisi ke principle yang bisa dibagi.

Rule of thumb yang aku pegang sederhana. Pakai intuisi untuk bergerak cepat. Pakai data untuk validasi dan koreksi arah.

Penutup

Untuk PM dan designer yang baru masuk industri, aku saranin satu hal. Jangan takut sama intuisi orang yang lebih senior, dan jangan cepat-cepat ngeklaim punya intuisi sebelum kamu punya cukup reps. Membangun intuisi itu investasi yang paling underrated, karena hasilnya gak terlihat dalam minggu atau bulan. Tapi setelah tahun ke-3 atau ke-5, kamu akan ngerasain bedanya.

Orang yang punya intuisi terlatih gak terlihat “riset kurang”. Mereka kelihatan cepat dan tepat, karena risetnya sudah jadi bagian dari cara mereka melihat dunia.

Diberi tag