Skip to content

Yomi no Tsugai dan Vagabond, Dua Manga yang Lagi Aku Nikmati

Yomi no Tsugai dari penulis Fullmetal Alchemist, ditambah Vagabond Takehiko Inoue yang akhirnya bisa aku akses lagi dengan lebih leluasa. Catatan sederhana sebagai pembaca yang lagi seneng.

Beberapa minggu terakhir aku lagi seneng banget. Bukan karena alasan kerjaan, bukan karena project apapun selesai, tapi karena dua manga yang aku tunggu lama akhirnya bisa aku nikmati lebih nyaman. Yomi no Tsugai, manga baru karya Hiromu Arakawa yang dulu nulis Fullmetal Alchemist. Dan Vagabond karya Takehiko Inoue, yang kembali jadi bagian harian aku setelah hiatus panjang yang bikin aku kangen.

Tulisan ini bukan review per panel. Aku gak punya kapasitas buat itu, dan kalau kalian cari review yang teliti, ada banyak channel YouTube atau forum yang lebih kompeten. Aku cuma mau cerita kenapa dua manga ini, di periode ini, bikin aku seneng membaca.

Yomi no Tsugai dan tangan Arakawa

Aku kenal Arakawa-sensei pertama kali lewat Fullmetal Alchemist, sama seperti banyak orang seangkatan aku. Dulu aku baca FMA pas masih SMA, dan beberapa adegan dari manga itu sampai sekarang masih nyangkut di kepala. Cara Arakawa nyusun konflik bukan dengan kekuatan yang bertambah, tapi dengan moral yang makin pelik. Karakter yang awalnya kelihatan villain ternyata punya alasan yang aku gak bisa langsung sangkal. Karakter protagonis yang aku root dari awal kadang ngambil keputusan yang aku rasa salah.

Pas Yomi no Tsugai mulai dirilis di Indonesia dan aku bisa ikuti lebih leluasa, awalnya aku takut kecewa. Banyak manga-ka yang setelah karya legendaris pertama gagal menyamai standarnya sendiri. Tapi setelah beberapa volume aku habiskan, kekhawatiran itu reda. Arakawa membawa ke cerita baru ini hal yang dulu juga ada di FMA, yaitu kemampuan untuk bikin pembacanya nyaman berpikir lambat. Adegan yang kelihatan biasa di permukaan biasanya punya layer di bawahnya yang baru kebuka pas chapter berikutnya.

Setting Yomi no Tsugai juga menarik. Bukan dunia urban modern, bukan juga fantasy abad pertengahan ala Eropa. Dia versi premodern Jepang yang dia bumbui dengan konsep dunia bawah dan ikatan antar dua makhluk supernatural. Si Yuru dan si Asa, twin yang katanya lahir di antara siang dan malam, sebagai protagonis yang menarik. Mereka gak ditampilkan sebagai chosen one yang heroik di awal. Mereka biasa, ragu, kadang bikin keputusan yang nyebelin pas dibaca. Itu yang bikin aku percaya sama mereka.

Vagabond dan diam yang penuh

Vagabond cerita Takehiko Inoue tentang Musashi Miyamoto, samurai legendaris yang sebenarnya nyata di sejarah Jepang abad 17. Cerita dia diadaptasi dari novel Eiji Yoshikawa yang ditulis tahun 1935. Tapi aku gak mau ngomong banyak soal plot di sini, karena yang paling bikin aku jatuh cinta sama Vagabond bukan ceritanya semata. Yang bikin jatuh cinta itu cara Inoue menggambar.

Inoue itu, di mata aku, salah satu pelukis manga terbaik yang masih hidup. Goresan kuas yang dia bikin di Vagabond ada banyak yang aku diam aja menatap halamannya tanpa baca teks. Suasana hutan, sapu angin di sawah, ekspresi wajah Musashi pas dia ragu, semuanya digambar dengan tingkat detail yang aku belum pernah lihat di manga lain. Halaman-halaman tanpa dialog di Vagabond menurut aku justru yang paling kuat. Inoue ngajarin tanpa nulis bahwa diam pun bisa penuh, asal yang ngegambar tau apa yang sedang dia coba sampaikan.

Salah satu adegan favorit aku di Vagabond adalah pas Musashi nyentuh padi di sawah setelah berlatih pedang berbulan-bulan. Dia diam, dan Inoue gambar dia hampir selama 20 halaman tanpa banyak dialog. Sebagai pembaca, aku ngerasa Musashi sedang ngalamin sesuatu yang penting, tapi aku gak diberi tahu apa persisnya. Itu kepercayaan kepada pembaca yang aku appreciate. Inoue gak ngegampangkan kesadaran karakter dia.

Hiatus Vagabond yang lama bikin aku khawatir mungkin kita gak akan dapat lanjutan. Tapi Inoue beberapa waktu lalu mention dia masih punya niat untuk menyelesaikan, dan aku ikut seneng walaupun gak tahu kapan persisnya. Untuk sekarang, aku puas baca ulang volume yang sudah ada, kadang berhenti lama di halaman yang sudah aku baca puluhan kali.

Kenapa keduanya nyangkut di aku

Aku coba refleksikan kenapa dua manga ini, di antara banyak yang lain, lagi nyangkut paling kuat di aku sekarang. Jawaban yang muncul agak sederhana.

Keduanya gak buru-buru. Yomi no Tsugai bisa habiskan satu volume untuk satu petualangan kecil yang efeknya ke karakter terasa baru di volume berikutnya. Vagabond bisa habiskan 10 halaman untuk satu ayunan pedang. Di era ketika hampir semua media kompetitif untuk merebut perhatian dengan kecepatan, dua manga ini malah bergerak pelan dan justru itu yang bikin aku tahan baca lama.

Keduanya juga punya hubungan personal yang khusus sama gambarnya. Arakawa punya gaya tarikan yang aku langsung kenal pas baca, dengan ekspresi karakter yang kadang lucu di tengah situasi serius. Inoue punya kuas yang menurut aku belum tergantikan oleh siapapun di generasinya. Kalau kalian belum coba liat gambar Inoue, gak rugi sempetin browsing beberapa panel di internet, walaupun di luar konteks ceritanya.

Penutup

Aku ngerti gak semua orang punya akses atau ketertarikan ke manga. Tapi kalau kalian baca sampai sini dan kepikiran nyoba salah satu, aku rekomendasi Vagabond untuk yang suka cerita yang slow burn dan visual yang mengagumkan, dan Yomi no Tsugai untuk yang dulu suka Fullmetal Alchemist dan kangen pendekatan moral Arakawa yang gak hitam putih.

Kalau kalian punya rekomendasi manga atau cerita lain yang menurut kalian patut aku coba, kasih tau aku. Aku selalu seneng dengar apa yang lagi orang lain konsumsi di periode yang berbeda dari aku. Selain itu, aku balik ke baca volume berikutnya dulu.

Diberi tag