Ada founder yang terkenal karena product launch yang viral. Ada yang terkenal karena pitching skills. Tapi ada tipe founder ketiga yang jarang dapat spotlight — yang bangun bisnisnya secara perlahan, satu brick at a time.
Tahu nggak siapa yang biasanya menang jangka panjang?
The Tortoise and The Hare, Startup Edition
Saya sering lihat pola ini: founder A launch dengan fanfare besar, dapet press coverage, funding announcement di media. Enam bulan kemudian? Silent.
Founder B? Lounch tanpa suara, signup rate naik 5% tiap bulan, revenue bertahap. Setahun kemudian? Sustainable business dengan customer yang loyal.
Bukan soal siapa yang lebih cepat. Soal siapa yang tetap bergerak.
Warren Buffet pakai analogi compounding untuk investasi: $1 yang tumbuh 20% per tahun jadi $38 dalam 20 tahun. Dalam bisnis, compounding bekerja di level yang berbeda:
- Knowledge compounding — belajar dari setiap customer interaction
- Relationship compounding — network yang terus tumbuhorganik
- Brand compounding — reputation yang built up over time
- Product compounding — improvement yang stack up
Kenapa Brilliance Sering Gagal
Founder “brilliant” punya pattern yang predictable:
- Big vision, big launch
- Initial traction dari novelty
- Problem yang lebih dalam muncul
- Pivot ke ide baru yang lebih “sexy”
- Repeat
Momentum terpecah. Energy terdispers. Resource habis di restarts.
Brilliance without consistency itu seperti sprint marathon.
Ada hal lain juga: brilliant founder sering ngerasa mereka “udah tau”. They pattern-match dari pengalaman sebelumnya tanpa observe konteks yang berbeda. Resultnya? Decisions yang superficially right tapi deeply wrong.
The Compounding Mindset
Founder yang compound punya karakteristik berbeda:
Mereka enjoy boring.
Ngurusin bug kecil. Follow-up email ke customer. Update dokumentasi. Hal-hal yang nggak Instagram-worthy tapi nge-build foundation.
Mereka measure progress dalam decade, not quarters.
Bukan berarti ignore short-term. Tapi mereka nggak panic kalau satu quarter lesu. They trust the process.
Mereka say no lebih sering daripada yes.
Tiap opportunity baru dievaluate: does this compound with existing effort, or does this reset the counter?
Framework: The 1% Rule
Cara praktis menerapkan compounding mindset:
Setiap hari, improve 1% di satu area.
Bukan 10%. Bukan 50%. Just 1%.
Contoh konkretnya:
- Product: satu small UX improvement per minggu
- Marketing: satu piece of content yang valuable
- Operations: satu process yang di-streamline
- Learning: satu conversation dengan customer
1% daily = 37x better in a year. Compound interest itu real.
Triknya: fokus pada system yang bisa diulang, bukan goals yang arbitrary.
Goals: “1000 users by Q3” System: “Reach out to 5 potential users every day”
Goals itu binary — achieve atau fail. System itu compounding — tiap execution nge-build capability.
Case Study: Basecamp (37signals)
Jason Fried dan DHH nggak dikenal karena product yang viral. Mereka dikenal karena consistency selama 20+ tahun.
Dari simple project management tool, mereka:
- Write buku tentang remote work (sebelum jadi mainstream)
- Publish blog dengan insights tentang building company
- Release products yang solve specific problems
- Say no ke VC funding consistently
Hasilnya? Sustainable business, loyal customer base, dan influence yang compound di industri.
Bukan karena satu genius move. Karena thousands of small right decisions accumulated.
Gimana Mulainya?
Tiga langkah untuk shift ke compounding mindset:
1. Identify your core flywheel
Apa aktivitas yang kalau dilakukan consistently, akan nge-generate hasil yang semakin besar overtime?
Contoh untuk SaaS: product improvement → better UX → more retention → more referrals → more revenue → more resource for product improvement.
2. Design your daily non-negotiables
Apa yang harus dilakukan setiap hari/minggu regardless of mood?
Bukan todo list yang panjang. One atau two things yang truly move the needle.
3. Track leading indicators, not lagging metrics
Revenue itu lagging — hasil dari activities di masa lalu.
Leading indicators: conversations had, experiments run, content published.
Fokus pada input yang bisa dikontrol.
The Hard Part
Compounding itu boring.
Nggak ada dopamine hit dari product launch besar. Nggak ada media coverage untuk bug fix kecil. Nggak ada celebration untuk follow-up email.
You have to find satisfaction in the process itself.
Ada quote dari James Clear (Atomic Habits) yang pas: “You do not rise to the level of your goals. You fall to the level of your systems.”
Founder yang compound adalah yang udah internalize ini.
Closing
Bukan berarti ignore opportunities atau nggak pivots sama sekali. Kadang reset emang necessary.
Tapi sebelum pivot, tanya: “Apakah ini truly dead end, atau aku cuma bored dengan consistency?”
Karena compounding nggak terlihat di short-term. Hasilnya visible setelah years of patient building.
Yang menang bukan yang paling brilliant. Yang menang adalah yang paling consistent.
Start small. Stay consistent. Trust the compound.
Artikel ini terinspirasi dari konsep compounding dalam berbagai konteks — dari investasi, habits, sampai building company. Framework-nya adaptasi dari apa yang saya observe di founder-founder yang sustainable jangka panjang.
Related readings:
- Atomic Habits oleh James Clear
- The Almanack of Naval Ravikant — chapter tentang compounding
- Anything You Want oleh Derek Sivers
- Shape Up oleh Ryan Singer (tentang sustainable product development)