Skip to content

Taste Dulu, AI Belakangan

Brand identity yang kerasa hidup itu jarang lahir dari prompt yang ribet. Yang ngebedain bukan tool-nya, tapi siapa yang lagi nyetir.

Beberapa bulan lalu aku iseng buka Dribbble setelah lama nggak ngintip. Scroll dua menit, dan ada perasaan aneh — semua project di feed-ku rasanya nyambung. Bukan dalam arti bagus, tapi dalam arti sama. Gradient mirip, ilustrasi mirip, layout mirip, font mirip. Padahal ini studio-studio yang dulu suka aku follow karena masing-masing punya sidik jari sendiri.

Aku close tab. Buka Pinterest. Sama. Buka Behance “best of”. Sama.

Bukan karena para desainer ini mendadak kompak. Tapi karena mereka semua narik referensi dari kolam yang sama — kolam yang sekarang setengahnya udah diisi sama output AI orang lain. Echo chamber estetika. Generated image ngasih makan generated image lainnya, dan hasilnya: semua punya “look” yang sama tapi nggak ada yang punya jiwa.

Itu yang sekarang sering disebut AI slop. Tapi aku makin yakin, slop itu bukan masalah tool — AI tools sekarang udah canggih. Masalahnya di input. Lebih spesifik: di taste yang sebenarnya nggak pernah ada di kepala orang yang ngeprompt.

Slop itu gejala, bukan penyakit

Kalau kamu lihat dua brand baru hari ini dan nggak bisa bedain satu sama yang lain, kemungkinan besar dua-duanya lahir dari workflow yang persis sama:

  1. Buka Midjourney atau Figma AI
  2. Ketik prompt generik — “modern minimalist logo for fintech startup”
  3. Pilih yang paling mendekati selera mayoritas
  4. Sentuh dikit di Photoshop biar nggak persis copy
  5. Ship

Pertanyaannya: di langkah mana sebenarnya kamu muncul? Selera spesifik yang nggak bisa diprediksi AI, yang lahir dari bertahun-tahun nyerap referensi dari luar layar?

Jawabannya: nggak ada. Yang muncul cuma probabilitas pola mayoritas dari training data. Kamu jadi kurator, bukan art director. Dan kurator yang nggak punya taste cuma mindahin slop dari satu tempat ke tempat lain.

Lucas Crespo dari Every pernah bilang sesuatu yang nempel di kepala aku berbulan-bulan: “If you’re prompting without a vision, everything works. And nothing stands out.” Karena AI default-nya emang mau menyenangkan. Dia ngasih kamu apa yang kebanyakan orang anggap “bagus”, dan kebanyakan orang anggap bagus itu definisinya rata-rata.

Taste itu bukan preferensi random

Taste yang dimaksud di sini bukan “aku suka warna biru” atau “aku lebih demen serif daripada sans-serif”. Taste itu artikulasi sensorik tentang dunia visual yang kamu mau orang masuki ketika ngelihat brand kamu. Dan artikulasi itu jarang lahir di depan layar — dia lahir di tempat-tempat yang nggak ada hubungannya sama tech.

Coba latihan ini sebelum kamu buka Midjourney lagi. Tutup laptop. Jawab pelan-pelan:

  • Kalau brand kamu adalah ruangan fisik, baunya gimana? Cahayanya kayak apa? Teksturnya bahan apa?
  • Referensi dari luar tech — film, lukisan, arsitektur, buku, musik, tempat fisik — yang bikin kamu merinding ketika ngeliatnya?
  • Apa yang TIDAK boleh ada di brand kamu? (kadang ini lebih jelas dari yang harus ada)

Aku pernah ngerjain ini buat Sarbeh. Hasilnya: dunia visualnya manga noir ketemu space western. Cinematic darkness yang restrained, sparse, atmospheric — tapi sewaktu-waktu meledak dengan energi yang nggak bisa ditahan. 85-90% hitam-putih, selective color cuma di momen erupsi. Kayak lightsaber yang baru dinyalain di scene tertentu. Kalau dia nyala terus, dia berhenti spesial.

Perhatikan: nggak ada satu pun kata tech di paragraf itu. Nggak ada “minimalist”. Nggak ada “clean UI”. Itu bukan kebetulan. Begitu kamu pakai vocabulary desain, kamu udah masuk lagi ke kolam referensi yang sama dengan semua orang. Vocabulary sensorik dari luar layar — itu yang bikin kamu balik ke jalur kamu sendiri.

Dynamic tension itu jiwanya, bukan polesannya

Brand yang aku inget selalu punya satu hal: dua hal yang seharusnya nggak cocok, tapi disandingin sengaja.

BrandTension
Every (Lucas Crespo)Klasik Greco-Roman + warna pop saturated
SarbehCinematic noir yang berat + ledakan manga yang kinetik
Apple era awalTeknologi tinggi + skeuomorphism yang hangat

Kontras itu adalah brand-nya. Bukan hiasan, bukan twist, bukan pelengkap. Kalau kamu cabut salah satu sisi, yang tersisa cuma setengah dari sesuatu yang biasa-biasa aja.

Cara nemuinnya gampang. Tulis satu kata buat “bobot” brand kamu — yang berat, dalam, serius, megah, atau gelap. Lalu tulis satu kata buat “pembebas”-nya — yang ringan, main-main, manusiawi, atau kecil. Kontras di antara dua kata itu yang kamu kejar di setiap aset yang kamu produksi.

AI itu eksekutor, bukan kreator

Setelah taste-nya keluar dan tension-nya jelas, baru AI tools masuk. Tapi posisinya udah beda total. Dia bukan yang ngedesain — dia yang ngeksekusi visi yang udah kamu artikulasi.

Workflow yang aku pakai sederhana:

  1. Brand direction dokumen 1 paragraf — dunia visual (sensorik, bukan kata desain), emotional temperature, dynamic tension, 3-5 referensi non-digital, dan daftar yang dilarang. Ini di-paste di awal setiap sesi.
  2. Midjourney buat eksplorasi bahan mentah — prompt simpel, hitam-putih, white background. Bukan buat hasil akhir. Buat nyari “material” yang bisa diolah lebih lanjut.
  3. Iterate dengan arah yang jelas — vary subtly, feed image yang mendekati visi kembali, adjust prompt sedikit-sedikit. Kamu yang nyetir. Kalau AI yang nyetir, output-nya bakal balik ke kolam mayoritas.
  4. Finalisasi pakai tangan — composite di Photoshop, warnai manual, tambahin grain, tambahin texture kertas. Sentuhan terakhir harus tangan manusia. Detail kecil yang dikerjain manual itu yang jadi sidik jari kamu.

Anti-slop rule yang aku pegang erat: kalau output AI bisa dibikin ulang sama orang lain dengan prompt yang sama, buang. Meskipun secara teknis bagus. Yang bagus tapi bisa direplikasi 1000 orang besok pagi bukan brand identity — itu wallpaper.

Second visit rule

Cara paling jujur buat ngetes apakah brand kamu punya jiwa atau slop yang dipoles: kunjungin sendiri di waktu yang beda, dan cek apa yang kamu notice di kunjungan kedua dan ketiga.

  • Kunjungan pertama: “oh, ini beda.”
  • Kunjungan kedua: “loh, background-nya ada texture-nya.”
  • Kunjungan ketiga: “ada detail kecil di sudut yang sebelumnya nggak ke-notice.”

Brand yang habis di 3 detik pertama berarti kurang dalam. Brand yang nggak ada apa-apa di 3 detik pertama berarti kurang kuat. Yang kamu kejar: hook di detik pertama, reward di kunjungan ketiga. Itu yang bikin orang balik. Bukan algoritma — detail yang reward perhatian.

Lucas bilangnya lebih halus: “You might not explicitly notice it, but you’ll feel it.” Dan itu yang nggak bisa ditiru AI selama kamu yang ngelepas tangan dari setir.

Yang ngebedain bukan tool, tapi siapa yang nyetir

AI sekarang udah commodity. Lima tahun lagi tool yang sekarang canggih bakal jadi default. Yang nggak akan jadi commodity: kemampuan kamu artikulasi taste sebelum buka tool apapun. Skill itu lahirnya dari mana-mana — manga yang kamu baca berulang, film yang kamu putar lagi pas sendirian, ruangan yang bikin kamu nggak mau pulang, buku yang halamannya udah lecek.

AI tanpa taste = slop. Taste tanpa AI = lambat. Kombinasinya, dengan urutan yang bener: brand yang punya jiwa dan bisa diproduksi sama tim kecil. Taste dulu, AI belakangan. Bukan sebaliknya.

Yang ngebedain brand kamu sama 10.000 brand lain di feed bukan tool yang kamu pakai — tapi sidik jari yang kamu tinggalin di tempat-tempat yang nggak akan diperhatiin orang lain.

Diberi tag