Skip to content

Surat untuk Adik-Adikku di Madrasah

Catatan dari kakak yang dulu juga sekolah madrasah, sekarang ngoding sambil ngafal. Tentang mimpi yang lebih luas dari mimbar, AI sebagai alat, dan kenapa kita gak boleh saling tarik ke bawah.

(Catatan dari kakak yang dulu juga sekolah madrasah, sekarang ngoding sambil ngafal, bikin produk sambil murajaah.)

Aku mau cerita sebentar buat kalian. Anggap ini surat panjang yang dikirim lewat WA, bukan artikel formal yang perlu kalian baca dua kali. Awalnya aku mau nulis ini khusus buat adik-adik di MA Almadinah, tapi makin aku tulis makin sadar isinya relate ke siapapun yang lagi sekolah, mau di Almadinah, di pondok lain, di MA daerah, di MAN, atau di SMA umum sekalipun yang masih pegang Islam sebagai pijakan. Jadi kalau kalian kebetulan baca dan ngerasa “aku bukan dari Almadinah”, tetep silakan baca terus. Substansinya buat kalian juga.

Waktu aku seumuran kalian, pertanyaan yang paling sering dilempar dari guru, dari orang tua, dari saudara dewasa kira-kira cuma seputar tiga hal. Mau jadi ustadz, hafidz, atau imam masjid. Itu pilihan-pilihan mulia dan aku gak punya niat meremehkan siapapun yang mengambil jalan itu, karena umat memang butuh orang-orang yang berdedikasi di tiga peran tersebut.

Tapi ada hal yang sering luput diomongkan ke kalian. Islam sebenarnya gak ngebatasin kalian cuma di tiga peran tadi. Ada banyak peran lain yang sama mulianya, dan dunia yang sedang kalian masuki sekarang butuh kalian di tempat-tempat yang dulu generasi sebelum kalian gak punya akses ke sana.

Misal kalian jadi engineer yang bikin sistem buat sekolah-sekolah di daerah, supaya guru di pelosok punya tools yang lebih baik daripada papan tulis kapur. Atau designer yang ngerancang antarmuka aplikasi Quran biar lebih ramah ke anak-anak kecil, sehingga mereka mau buka aplikasinya tanpa harus ditarik-tarik orang tuanya. Bisa juga jadi founder yang ngebangun produk halal sambil bayar pegawainya secara adil, sehingga rezeki yang masuk ke rumah kalian dan rumah karyawan kalian itu jelas asalnya. Peneliti pun bisa berperan besar, terutama yang membantu dunia paham bahwa sumber daya alam itu amanah, bukan sekadar komoditas yang dikuras sampai habis.

Yang Allah letakkan di kalian itu bermacam-macam, dan yang aku khawatirkan justru kalau kalian menerima begitu saja bahwa bakat dan minat kalian harus dipaksa masuk ke cetakan yang terlalu sempit.

Tentang nilai

Mungkin sekarang muncul pertanyaan di kepala kalian. Kalau jalan saya bukan di mimbar atau di pondok, apa nilai Islam saya ikut hilang?

Justru kebalikannya yang aku harapkan. Aku ingin nilai itu tetap ada di saku kalian ke mana pun kalian melangkah nanti, dan yang lebih penting, kelihatan dari cara kalian bekerja, bukan dari slogan di bio Instagram kalian.

Misal kalian jadi software engineer, lalu shipping produk yang gak nipu user dan transparan soal datanya, niat kalian itu sudah ibadah. Termasuk juga ketika kalian refactor kode yang dipakai banyak orang biar lebih aman dari serangan, atau ketika kalian bilang “tidak” ke project yang sumber pembiayaannya gak jelas. Tidak harus disebutkan kata “ibadah” di komentar kode kalian. Tapi niat yang kalian bawa itu yang nantinya tercatat.

Kalau kalian jadi konten kreator, kontennya gak bohong, gak ngumbar aib orang, gak ngeklik bait yang sengaja menjebak. Itu bagian dari dakwah, walaupun kalian gak pernah pegang microphone di atas mimbar manapun.

Yang aku pelajari setelah sekian lama kerja di industri, nilai itu beroperasi paling kuat justru ketika dia gak disebut dalam slogan. Pas dia kelihatan dari cara kalian memilih project, dari cara kalian menanggapi tawaran proyek, dari cara kalian memperlakukan rekan kerja yang junior. Itu yang ditangkap orang sekitar, bukan kata-kata di bio sosmed.

Tentang AI

Sekarang aku mau ngomong soal AI sebentar, karena ini topik yang sering bikin orang dewasa di sekitar kalian panik.

Aku sering denger berbagai versi paniknya. AI bahaya buat anak muda. AI bikin males. AI ganti manusia. Aku gak mau bilang paniknya sepenuhnya gak berdasar, karena memang setiap teknologi baru selalu bawa risiko. Tapi sering paniknya yang berlebihan itu bikin kita lupa kalau AI sebenarnya posisinya sama kayak pena, kuas, kalkulator, atau papan tulis yang dulu juga sempat ditakuti pas pertama kali masuk sekolah. Baik-buruknya gak ditentukan oleh alatnya, tapi oleh niat dan akhlak orang yang megang.

Kalian boleh pakai AI buat belajar materi yang gurunya belum sempat jelasin, buat riset essay yang dulu butuh seminggu jadi semalam, buat latihan bahasa Inggris yang sebelumnya kalian malu kalau dipanggil maju di kelas. AI juga bisa kalian pakai buat cek tafsir dari beberapa ulama secara cepat, sebelum kalian bawa balik ke ustadz kalian buat verifikasi. Selama prosesnya kalian pegang, AI bisa jadi akselerator yang melatih kalian berpikir lebih dalam.

Yang gak boleh, kalian pakai AI buat nipu guru. Output AI yang kalian copy-paste tanpa kalian pahami sendiri itu ilmu yang kosong, karena Allah ngasih ilmu lewat proses, bukan lewat tombol generate. Yang juga gak boleh, kalian jadiin AI pengganti murajaah dan hafalan. Yang masuk hati kalian itu repetisi yang berulang-ulang, dan layar gak bisa gantiin itu.

Kalau habis pakai AI kalian malah merasa lebih bodoh dan tergantung, berarti cara pakainya yang perlu diperbaiki. Bukan AI-nya yang harus disingkirkan.

Tentang kalian satu sama lain

Bagian yang sebenarnya paling aku takut bukan soal AI dan bukan soal mimpi yang luas. Yang paling aku takut soal bagaimana kalian saling memperlakukan satu sama lain di sepanjang perjalanan kalian nanti.

Aku terlalu sering lihat orang Indonesia bagus-bagus, pintar-pintar, dan punya potensi besar, tapi pas ada temen yang mulai naik justru ditarik balik. Komentarnya seringkali bisa diprediksi. Dia mah ngandelin orang dalam. Sok-sokan banget pakai bahasa Inggris segala. Riya, posting amal mulu di sosmed. Para psikolog sering nyebut ini crab mentality, ngacu ke kepiting di dalam ember yang setiap ada yang mau keluar, ditarik balik sama kepiting lain. Sehingga semuanya stuck di tempat yang sama.

Allah sebenarnya sudah jelas mengingatkan kita soal ini di Al-Hujurat. Jangan saling merendahkan dengan panggilan buruk. Jangan saling mencela. Dan di Al-Maidah ayat 2, Allah perintahkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan. Kolaborasi yang sehat itu bukan sesuatu yang baru lahir di Silicon Valley. Sudah lama jadi adab di antara umat Islam.

Praktiknya begini. Kalau temen kalian sudah lebih dulu paham AI dan kalian belum, tanya dia tanpa harus merasa kalah. Kalau kalian lebih dulu paham sesuatu, ajarkan temen kalian tanpa khawatir ilmu kalian habis, karena ilmu yang diajarkan justru bertambah dan mencatat amal jariyah buat kalian. Kalau ada temen yang mulai bikin proyek dan share di grup, dukung dia dengan komentar yang membangun, jangan diem-diem skeptis sambil ngegosip di belakang. Komentar yang ngedukung secara nyata itu ongkosnya murah, tapi efeknya jauh berbeda dengan komentar nyinyir yang biasanya juga sama gampangnya dilempar.

Penutup

Aku gak bisa ramalin masa depan, karena hanya Allah yang tahu. Tapi ada satu hal yang aku yakin. Kalau kalian besar dengan nilai Islam yang kalian bawa di dalam saku, dengan alat-alat baru yang ada di tangan, dan dengan temen-temen yang saling tarik ke atas alih-alih ke bawah, maka masyarakat yang kalian bangun di masa depan akan terasa beda dengan yang sekarang kita tempati.

Mimpi besar itu gak dosa. Yang lebih saya khawatirkan justru kalau kalian mengubur potensi yang Allah amanahkan ke kalian, hanya karena ngira jalan kalian sudah ditentukan sempit oleh tradisi yang sebenernya juga masih bisa ditafsir ulang.

Mulailah dengan apa pun yang ada di tangan kalian sekarang. Kalau cuma HP dan koneksi internet, itu sudah lebih banyak dari yang generasi aku punya pas seumuran kalian.

Sambil tetep pegang Quran kalian, dan tetep ngaji bareng ustadz.

Wassalam.

Diberi tag