“Bukan karena mereka bodoh, tapi karena bias-bias itu lagi ‘collab’ dan nggak ada yang sadar.”
Pernah heran nggak, kenapa satu tim yang isinya orang-orang pinter lulusan kampus top, data analyst jago, sampai C-level visioner bisa bikin keputusan yang… yah, konyol?
Bukan cuma satu orang yang salah. Tapi satu ruangan meeting sepakat bikin keputusan yang kalau dilihat dari luar, kelihatan banget nggak masuk akal.
Charlie Munger punya jawabannya. Dia menyebut fenomena ini Lollapalooza Effect. Kalau bahasa anak sekarang, ini “bumbu rahasia” kenapa orang pinter bisa mendadak jadi “delulu” (delusional) secara berjamaah.
Apa Sih Lollapalooza Effect?
Simpelnya begini: Ini kejadian ketika 3 sampai 4 bias kognitif bekerja barengan di satu arah yang sama.
Hasilnya bukan penjumlahan matematika biasa (1+1+1=3). Ini adalah ledakan non-linear—kayak reaksi nuklir. jadinya bisa 100, bukan 3 lagi hahaha
Kalau kita cuma kena satu bias, misal kita agak overconfident, itu masih gampang diatasi. Tapi kalau tiga bias atau lebih saling menguatkan? Itu hampir mustahil dilawan tanpa awareness yang tinggi banget.
Contoh Gampangnya “Crypto Micin” & NFT
Kita gak pake contoh Tupperware dengan yang lebih relate. Ingat pas orang-orang beli gambar batu digital (NFT) seharga rumah? Itu cuma JPEG. Gak ada fungsi real-nya. Tapi orang tetap beli. Kenapa? Bukan cuma satu alasan, tapi ada combo bias yang menyerang otak barengan:
Pertama, ada Social Proof. Kamu ngeliat semua influencer dan teman di timeline pamer keuntungan. Otak langsung mikir, “Masa aku doang yang nggak ikutan?” “Pengen cuan juga bisa kali ye?”
Kedua, Scarcity & FOMO (Fear of Missing Out). “Minting cuma 24 jam! Limited edition!” Kita dipaksa gerak cepat tanpa mikir panjang.
Ketiga, Authority Bias. Tokoh besar kayak Elon Musk atau Chef ngomongin itu. “Kalau mereka beli, pasti bener dong?”
Keempat, Commitment. Sudah terlanjur bikin wallet, sudah transfer crypto, sayang kalau nggak jadi beli. Udah jadi si paling blockchain dan singularity desentral !
Masing-masing bias itu lemah kalau sendirian. Tapi pas digabung? Gong Bener. Logika mati, emosi yang menyetir.
Penulis pernah ngalamin juga kok hahahah
Contoh di Kantor: The “AI Feature” Trap (Product Manager Context)
Setiap ada tren baru dulu Blockchain, sekarang AI; Lollapalooza sering kejadian di ruang product planning.
Bayangkan CEO masuk ruangan dan bilang, “Kita harus pasang AI di aplikasi kita bulan depan!” (Ini kita terkena Authority Bias).
Lalu tim bisnis bilang, “Kompetitor sebelah sudah rilis fitur AI, kalau kita nggak, kita mati!” (Ini Deprival Superreaction alias takut kehilangan market).
Terus satu tim setuju-setuju saja karena takut dibilang nggak inovatif (Social Proof). Dan karena kalian sudah hire 5 Engineer AI bulan lalu, kalian merasa wajib bikin fitur itu biar nggak rugi gaji (Sunk Cost Fallacy).
Hasilnya? Tim yang rasional jadi irasional. Kalian rilis fitur yang sebenarnya user nggak butuh, cuma karena bias-bias tadi “pesta pora” di kepala kalian. Dan yang ngeri: kalian merasa keputusan itu jenius saat dibuat.
Kenapa Ini Berbahaya Banget?
Perbedaan bias tunggal sama Lollapalooza itu kayak beda “kesandung” sama “jatuh ke jurang”.
Bias Tunggal itu gampang diidentifikasi dan efeknya moderate. Kita bisa perbaiki pakai data atau A/B testing.
Lollapalooza itu susah banget dideteksi karena suaranya kencang banget di kepala. Checklist biasa nggak mempan, butuh kesadaran real-time. Efeknya seringkali irreversible. Sekali kamu pivot perusahaan atau bakar budget besar karena Lollapalooza, seringkali nggak bisa di-undo lagi.
Tanda-Tanda Kamu Lagi Kena (Red Flags)
Kalau lagi meeting dan merasakan tanda-tanda ini, hati-hati:
Urgency yang Nggak Masuk Akal
Tiba-tiba ada narasi “Harus diputuskan sekarang!“. Padahal kalau dipikir pakai logika dingin, nggak ada yang bakal meledak kalau kalian nunggu seminggu buat riset dulu. Ini bias urgensi palsu.
Overconfidence Tanpa Data
”Pasti laku keras!” Keyakinan level 100%, tapi datanya nol. Cuma modal gut feeling atau omongan satu dua orang.
Echo Chamber (Semua Orang Setuju)
Nggak ada yang debat. Nggak ada yang kasih perspektif beda. Semua mengangguk setuju. Ini bukan tanda tim yang solid, ini tanda groupthink.
High Emotion
Suasana meeting terlalu excited (hype parah) atau terlalu ketakutan (panik ditinggal kompetitor). Pokoknya emosi yang mendominasi, bukan data.
Kalau 2-3 tanda ini muncul barengan? Lari. Atau minimal, berhenti sebentar.
Cara paling ampuh lawan “delulu” berjamaah ini dimulai dengan
-
Vibe Check: kalau keputusan cuma didorong rasa takut sama bos (Authority) atau takut ketinggalan tren (FOMO),
-
langsung injak rem pakai Aturan 24 Jam. Jangan pernah lock strategi saat emosi lagi tinggi-tingginya; endapkan dulu semalam. Kalau besok pagi idenya masih terdengar logis saat kepala dingin, baru gas.
Selanjutnya,
-
pecahkan echo chamber dengan menunjuk satu “Devil Advocate” di meeting, orang yang tugasnya wajib cari celah dan bilang “nggak” saat semua orang setuju.
-
Tutup dengan teknik Premortem “Bayangkan setahun lagi proyek ini gagal total, kira-kira kenapa?” Pertanyaan ini memaksa kita keluar dari optimisme buta dan melihat risiko nyata yang tadinya tertutup bias.
Intinya
Lollapalooza Effect menjelaskan kenapa orang pinter bisa bikin keputusan bodoh secara kolektif.
Bukan karena IQ mereka turun. Tapi karena multiple bias bekerja barengan tanpa ada yang sadar.
Satu-satunya pertahanan adalah kemampuan untuk mundur sejenak, melihat gambaran besar, dan bertanya:
“Kita ini lagi ambil keputusan berdasarkan data, atau lagi halu berjamaah karena kebanyakan bias?”
Kalau jawabannya yang kedua… waktunya pause.